Tanpa judul

                       MEIYAKH


MEIY AKH adalah salah satu kelompok sosial

sebagai penduduk asal yang berdiam dalam wilayah

Kabupaten Manokwari, Propinsi lrian Jaya. Kelompok

lain yang berdiam di daerah Manokwari ini adalah

Hattam, Manikion, dan Moire. Keempat kelompok

ini merupakan sub kelompok dari kelompok besar

yang disebut suku-bangsa Arfak. Selain itu tentu

masih ada kelompok etnik lain yang merupakan

penduduk asal daerah ini.

Lingkungan Alam. Kabupaten Manokwari

umumnya merupakan daerah bergunung-gunung, di

antaranya, gunung Umcen, lndon, ljonomona, lkofow,

pegunungan Arfak, dan lain-lain. Di celah-celah

pegunungan itu mengalir sungai-sungai, di antaranya

bermuara ke lautan Pasifik di bagian utara dan sebagian

lain ke arah selatan di Teluk Bintuni. Di antara sungai

sungai itu adalah sungai Pami, Nuni, Air Masi yang

mengalir ke utara; sedangkan yang mengalir ke

selatan misalnya sungai Tedehue, Mutiara, Wasian,

Wasirsari, lnggen, lngsim, dan lain-lain. Tofografi

daerah ini tidak rata, dengan lembah-lembah yang

terjal dan arus air yang deras. Daerah-daerah yang

berdekatan dengan perkampungan hutannya sangat

ti pis karena dibabat dan terus menerus dijadikan ladang.

Daerah ini memiliki berjenis-jenis fauna, seperti

rusa, babi hutan, tikus besar, kuskus, kanguru pohon

berukuran kecil, ular, dan lain-lain. Binatang peliha

raan adalah babi dan ayam. Daerah ini juga dikenal

dengan berbagai jenis buah-buahan, misalnya durian,

rambutan, matoa, mangga, langsat, pisang, sukun

hutan, advokat. Daerah pedalaman masih ditutupi

hutan lebat.

Penduduk. Orang Meiyakh terkonsentrasi antara

lain dalam wilayah Kecamatan Merdei dan Kecamat

an Manokwari, terutama di desa-desa Testega, Yoom,

Sidei, Warkapi, Amban, Pasir Putih. Registrasi

Kantor Bupati tahun 1979 menunjukkan penduduk

kecamatan tersebut di atas berjumlah 12.898 jiwa.

Sebagian terbesar dari jumlah tersebut adalah orang

Meiyakh dan sebagian kecil penduduk asli lrian

lainnya. Di luar jumlah tersebut hanya ada 25 jiwa

orang luar di antaranya keturunan Cina, yaitu 12 jiwa

di desa Tesgeta dan 13 jiwa di desa Pasir Putih.

Hubungan mereka dengan orang luar umumnya baik

asalkan pendatang itu tidak melanggar hak-hak mereka.

Laki-laki Meiyakh sudah banyak yang kawin dengan

wanita Biak, sedangkan wanitanya belum ada yang

kawin dengan orang luar atau suku-bangsa lain.

Sejarah lisan tentang asal usul mereka patut dikenal

karena mempunyai kaitan dengan penduduk Indonesia

lainnya yang ada di bagian barat Nusantara ini. Mereka

mengenal ceritera bahwa pada zaman dahulu di

daerah Manokwari tumbuh sebatang pohon bernama

Faney. Pohon itu tempat keluarnya seorang manusia

yang disebut lwari, artinya "manusia pertama". lwari

mempunyai seorang anak laki-laki bernama Esteniba

dan seorang anak perempuan bernama Doansiba.

540

Setelah besar anak laki-laki itu pergi ke arah selatan

dan sampai ke Teluk Bintuni dan dari sini ia pergi

berlayar ke arah barat. Esteniba inilah yang kemudian

menurunkan suku-suku bangsa di sebelah barat lrian,

seperti orang Ambon, Bugis, Makassar, Jawa dan

lain-lain. Si anak perempuan Doansiba adalah yang

menurunkan orang Meiyakh yang sekarang. Sebagian

orang Meiyakh beranggapan bahwa orang Jawa. Bugis,

Makassar yang datang ke Manokwari dianggap

sebagai sudara tua yang kembali ke pokok semula

yaitu Faney tadi.

Pola Perkampungan. Perkampungan orang

Meiyakh yang berada di pesisir atau dekat dengan kota

menunjukkan pola mengelompok, sedangkan yang

berdiam di pedalaman dengan pola menyebar. Rumah

rumah dekat pantai menghadap ke pantai. Di pedalaman

rumah tersebar di bukit-bukit yang subur, tidak jarang

satu bukit hanya ada satu atau dua buah rumah (mod).

Satu rumah itu didiami oleh beberapa keluarga,

sehingga satu atau dua rumah itu disebut satu kampung

(monoh). Selain itu dibuatkan pula rumah kecil tempat

bersalin yang disebut modkem. Mereka percaya darah

dari wanita yang bersalin itu tidak boleh mengotori

penghuninya pula. Kalau dalam keadaan kotor

semacam itu maka orang mudah terkena penyakit dan

mudah kena panah dalam peperangan.

Rumah-rumah merupakan rumah panggung ber

bentuk persegi panjang yang berdiri di atas tiang

tiang. Atap rumah terbuat dari daun sagu atau seng,

dinding dan lantainya terbuat dari kulit kayu atau barn bu.

Rumah-rumah itu mempunyai kamar, ruang tengah

dan serambi muka. Di bagian belakang ada dapur

yang dihubungkan dengan jembatan .dari kayu. Ru mah

itu tidak mempunyai kamar mandi dan WC. Mereka

mandi di tempat pemandian umum atau di sungai.

Batas antara satu kampung dengan kampung lain

umumnya berupa batas alam, seperti sungai, bukit,

taut. Batas ini tidak boleh dilanggar dan di masa lalu

kalau dilanggar akan mengakibatkan perang, dan

mereka pun percaya kalau dilanggar akan mendapat

kutukan dari nenek moyang. ltulah sebabnya mereka

sangat terikat pada wilayah masing-masing. Setiap

kampung tidak berdiri sendiri, tetapi merasa merupa

kan bagian dari kelompok Meiyakh atau Arfak. Suatu

kampung yang tidak dapat memecahkan satu masalah

akan diselesaikan pada tingkat kepala adat yang

lebih tinggi.

Mata Pencaharian. Mata pencaharian penduduknya

umumnya berladang dan berkebun. Teknik berladang

dan berkebun masih bersifat tradisional. Pertama-tama

pemilihan lahan yang dianggap subur. Pohon dan

semak belukar ditebang dan dibabat yang kemudian

ditunggu sampai kering dan akhirnya setelah kering

dibakar. Pekerjaan ini dilakukan oleh kaum laki-laki.

Lahan yang sudah dibakar dibersihkan, lalu ditugal

dengan mongga guna membuat lobang yang akan

dimasukkan bibit. Pekerjaan ini dikerjakan oleh w;1111ta atau dcngan kaum pria serta dihantu oleh

;1nak-anak mcrcka dalam satu keluarga batih. Lahan

llu d11anami hcrJenis tanaman. seperti kcladi (mosmos).

pct at a.'> I 1110/w J. kctcla pohon ( 11wi11Kena11). pi sang

I nenei J. kacang panpng ( kaju), jagung (met rem).

lahu lmehetiJ. ketimun (momtku), lombok (meifesik),

ncna-' I menggerak), tebu. dan lain-lain. Kegiatan

pancn Jan membawanya pulang ke rumah umumnya

dilakukan oleh kaum warnta.

PekerJaan sambilan adalah herburu yang dilakukan

-'Cwaktu-waktu saja. dan binatang yang diburu ialah

rusa. habi hutan (nipuwea). kuskus (moriya). burung,

dan lain-lain. Cara berburu dengan memanah atau

menJcrat. Kegiatan berburu dipimpin oleh dwebahah.

Pekcrpan sambilan lainnya menangkap ikan dengan

kai I a tau Jeng an cara membendung anak sungai

tcrtentu schingga airnya kering. Mereka juga mengenal

peternakan. misalnya babi. ayam, kambing. Babi

mcrupakan ternak yang penting karena digunakan

pula sehagai mas kawin. Ayam terkadang dijual

untuk membeli kehutuhan sehari-hari. misalnya untuk

pakaian. alat-alat rumah tangga, dan lain-lain.

Organisasi Sosial. Satu rumah tangga ada yang

hanya merupakan keluarga batih. tetapi ada yang

mcrupakan keluarga luas. misalnya ditambah dengan

... audara-saudara dari pihak ayah atau pihak ibu. Orang

Mciyakh membenarkan keluarga poligami dengan dua

istcri atau lebih meskipun mereka telah memeluk

agama Kristen. lsteri-isteri mereka ini biasanya tinggal

dalam satu rumah. Tujuan poligami atau poligini

ini adalah untuk menambah tenaga dalam lapangan

ckonom1. Dalam keluarga inti ayah berperan memim

pin keluarga. menjaga keamanan dan nama baik

kcluarga. dan dalam perladangan bertugas membuka

hutan atau kebun baru dan memagarinya. Sang isteri

hcrpcran mcngasuh anak. memasak makanan untuk

kcluarga. menanami kebun dan ladang, panen. men

jual hasil kchun. serta memelihara ternak. Anak laki

laki dcwasa mcmhantu ayah dan ibunya di ladang.

scdang anak wanita membantu ibunya di mana saja

pcrg1.

Masyarakat ini juga mengenal sistem klen dan

masing-masing klen mempunyai nama sendiri. misal

nya Mandacan. Toansiba. Doansiba. Salabi. Maidodga.

Mcrcka juga mengenal kepala adat yang memimpin

.'>Chuah kampung yang disebut manwrnur, dibantu

olch scorang wakil yang disebut 111osk1u- dan seorang

kepala perang atau renaisis dan pimpinan dalam

berburu idwehahah). Biasanya yang berhak menJadi

kepala kampung adalah pendiri kampung yang per

tama, baik laki-laki atau perempuan. Syarat lain

untuk menjadi pemimpin adat ini mampu memimpin

secara adil, dapat memelihara keutuhan adat, mampu

memelihara keamanan, jujur, tidak boros, dan ber

wihawa. Penyesuaian terhadap sistem pemerintahan

formal, di samping pimpinan berdasarkan adat tadi

ada pula Kepala Desa, Ketua Rukun Kampung IRK).

Ketua Rukun Tetangga <RT), dan aparat desa lainnya.

Penyesuaian ini berlangsung sejak tahun 1975. Syarat

untuk pemimpin formal ini pun lebih kurang sama

dengan untuk pemimpin adat tersebut di atas.

Hal-ha! yang menyangkut adat diselesaikan oleh

kepala adat dalam kampung yang bersangkutan.

Apahila tidak terselesaikan di tingkat ini akan di

tcruskan kepada kepala adat yang lehih tinggi yang

biasanya ada di pedalaman. Masalah yang meminta

penyelesaian itu misalnya masalah perzinaan. mela

rikan isteri orang lain, pemukulan terhadap isteri.

dan lain-lain. Urusan pemerintahan ditempuh melalui

jenjang RT. RK. Kepala Desa, Carnal, dan seterunya.

Religi. Umumnya mereka sudah memeluk agama

Kristen Protestan. Pandangan mereka terhadap guru

agama sangat tinggi dan menghormatinya. karena

dianggap membawa ajaran yang baik. Dalam hal

keagamaan mereka tunduk pada guru agama. sedang

kan dalam hal adat mereka masih tunduk kepada

"Kepala Suku".

Selama mereka menganut agama tersebut banyak

pengaruhnya terhadap prikehidupan mereka. Sikap

curiga mencurigai antar keluarga atau kelompok yang

lebih besar sudah berkurang. Perang antar kelompok

sudah berganti dengan rasa kasih sayang; demikian

kebiasaan mabuk-mabukan pun sudah jauh berkurang.

Namun kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan

sakti pada benda-henda. tumbuhan, binatang, dan

manusia masih diamalkan pula.

Rujukan

Legio, M. et al

1984 Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah

lrian Jaya, Jakarta : Proyek lnventarisasi

dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.


  

roy.ronsumbre

Nama Saya : petrus roy.ronsumbre biasa di panggil roy asli suku biak yang berdomisili di manokwari

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items